Sidiq Aditia
My blogs
| Gender | Male |
|---|---|
| Industry | Education |
| Occupation | Guru |
| Location | Lingga, Kepri, Indonesia |
| Introduction | Penulis dilahirkan di Pulau Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, pada tanggal 2 Maret 1998, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Pendidikan dasar hingga menengah penulis diselesaikan di tanah kelahiran. Setelah itu, penulis melanjutkan studi di Kota Bertuah, tepatnya di Universitas Riau, dengan mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 2018, meskipun sempat mengalami gap year. Pada tahun 2022, penulis melanjutkan pendidikan profesi guru di Universitas Riau dan berhasil lulus pada tahun 2023. Saat ini, penulis mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 11 Dumai. Selain itu, penulis juga sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas PGRI Semarang dengan jurusan Linier. |
| Interests | Sejak lama, saya memiliki minat yang mendalam dalam bidang sastra. Dunia sastra bagi saya adalah sebuah ruang yang kaya akan makna, di mana kata-kata tidak hanya sekadar bentuk komunikasi, tetapi juga sarana untuk menggali emosi, budaya, dan perspektif yang berbeda. Melalui sastra, saya belajar tentang keindahan bahasa dan kekuatan cerita dalam membentuk cara kita memandang dunia. Namun, minat saya tidak berhenti pada sastra semata. Saya juga tertarik pada kajian bahasa dan pengajaran. Saya percaya bahwa bahasa adalah jembatan antara individu dan masyarakat, dan melalui pengajaran bahasa, kita dapat membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam antara budaya dan generasi. Dengan kombinasi minat dalam sastra dan bahasa, saya berusaha untuk terus mengembangkan diri, baik dalam penelitian maupun dalam praktik pengajaran yang efektif dan bermakna. Melalui perjalanan akademik dan profesional saya, saya berkomitmen untuk menggali lebih jauh keindahan bahasa, serta berkontribusi pada dunia pendidikan dan pengajaran bahasa yang lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman. |
| Favorite movies | Slam Dunk: Sebuah Perjalanan yang Tak Pernah Membosankan Slam Dunk, serial animasi Jepang yang menjadi favorit saya, tak pernah gagal menghibur meskipun saya menontonnya berulang kali. Dengan tema utama basket, anime ini bukan hanya soal olahraga, tetapi juga mengangkat persahabatan, perjuangan, dan semangat juang yang menginspirasi. Hanamichi Sakuragi, tokoh utama, mulai sebagai remaja yang tidak tertarik pada basket, bahkan dikenal kasar dan penuh ego. Namun, perjalanan hidupnya berubah saat bergabung dengan tim basket sekolah. Perubahan dirinya—dari yang awalnya hanya mencari perhatian menjadi sosok yang berjuang demi tim dan diri sendiri—adalah salah satu daya tarik utama dalam anime ini. Apa yang membuat Slam Dunk begitu spesial adalah penggambaran persahabatan dan kerja sama tim yang kuat. Setiap karakter seperti Rukawa, Mitsui, dan Akagi memiliki kepribadian berbeda, namun mereka bersatu demi tujuan yang sama. Ada banyak konflik, tetapi mereka tetap saling mendukung. Setiap pertandingan selalu menyentuh hati, baik saat merayakan kemenangan kecil atau menghadapi kekalahan yang menguji tekad. Humor Hanamichi, yang sering kali konyol, juga memberikan warna tersendiri dalam cerita. Walau ceroboh, ia memiliki ketulusan yang membuat penonton semakin mencintainya. Momen-momen epik saat pertandingan intens juga semakin menghidupkan cerita, terutama dengan gaya animasi khas era 90-an yang memberikan nuansa nostalgia. Slam Dunk lebih dari sekadar anime olahraga. Ini adalah cerita tentang perjuangan, kerja keras, dan kebersamaan. Setiap kali menontonnya, saya selalu menemukan hal baru, baik dalam cara saya memandang kehidupan maupun persahabatan. Anime ini tetap meninggalkan kesan mendalam dan bisa dinikmati berulang kali. |
| Favorite books | Ketika berbicara tentang dunia sastra dan hiburan, saya tidak bisa melupakan Kambing Jantan, karya pertama yang benar-benar membuka mata saya pada dunia novel. Ditulis oleh Raditya Dika, Kambing Jantan bukan sekadar novel, tetapi juga pengalaman berharga dalam perjalanan saya mengenal sastra. Jika dibandingkan dengan karya-karya yang lebih baru, Kambing Jantan mungkin terasa sederhana dalam segi cerita dan penulisan. Namun, justru di sinilah pesonanya. Dengan gaya humor khas Raditya Dika, novel ini menyajikan kisah-kisah kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kejadian lucu dan konyol. Meski ringan, cerita ini tetap mampu menyentuh sisi manusiawi saya sebagai pembaca. Apa yang membuat Kambing Jantan berkesan adalah fakta bahwa ini adalah novel pertama yang saya selesaikan dari awal hingga akhir. Sebelumnya, saya kesulitan menyelesaikan buku, tetapi Kambing Jantan mampu membuat saya tenggelam dalam setiap halamannya. Gaya bercerita Dika yang apa adanya, tidak berusaha tampak rumit, membuat cerita ini terasa dekat dan mudah dipahami. Meskipun kini saya telah membaca banyak buku dengan tulisan lebih halus dan cerita lebih mendalam, Kambing Jantan tetap menjadi karya yang tak terlupakan. Ini adalah pintu gerbang saya untuk lebih mendalami literasi dan menjadi inspirasi awal saya untuk terus membaca. Karya ini tidak hanya berisi humor, tetapi juga momen-momen reflektif yang mengajarkan tentang kesalahan dan pembelajaran dalam hidup. Bagi saya, Kambing Jantan lebih dari sekadar kualitas cerita atau penulisan. Ia adalah memori pribadi yang terkoneksi erat dengan perjalanan membaca saya. Walau banyak karya baru yang lebih berkembang, Kambing Jantan tetap menjadi favorit yang selalu mengingatkan saya pada awal mula kecintaan saya pada dunia buku. |
